Pembangunan Regional

Materi ini sudah cukup lama tersimpan dilaptop saya, jadi tak ada salahnya saya berbagi pengetahuan dengan para geograph semua. Materi ini hasil kumpulan dari pencarian dibeberapa blogger dan situs-situs terkait yang menyajikannya. Jadi, mimin minta maaf kalau ada materi yang sumbernya tidak tercantum. Mari kita ikhlaskan dan semoga menjadi amal jariyah bagi kita.. Aamiiin… (^_^)

PEMBANGUNAN REGIONAL

Pengertian Pembangunan Regional

            Pembangunan regional adalah usaha meningkatkan kualitas kehidupan maupun kualitas lingkungan, sektor dan jangkauannya sangat luas. (Sumaatmaja, 1989: 49) Menurut sumber lain, pembangunan regional ialah strategi pemerintah nasional dalam menjalankan campur tangan pemerintah untuk mempengaruhi jalannnya proses pembangunan di daerah-daerah sebagai bagian dari daerah nasional supaya terjadi perkembangan kearah yang dikehendaki.

http://www.ginandjar.com/public/05MemantapkanLandasan.pdf

Landasan  Pembangunan Regional

Kawasan Indonesia terdiri dari 13.667 pulau. Luas daratan di Indonesia mencapai 1.922.570 Km2, luas perairannya 3.257.483 Km2. Jadi, luas keseluruhannya mencapai 5.180.053 Km2, jika ditambah dengan ZEE maka luas Indonesia mencapai 7.900.000  Km2, secara administrasi Negara Indonesia terbagi menjadi 33 provinsi, menurut kecermatan yang  tinggi dalam melaksanakan strategi pembangunan nasional dan regional. Wilayah yang luas yang terdiri dari lautan juga luas, serta di beberapa bagian daratan dan laut berbatasan langsung dengan Negara tetangga, dalam melaksanakan pembangunan diperlukan koordinasi serta komunikasi yang meyakinkan agar asas adil dan merata benar-benar dapat dilaksanakan. Ditinjau dari aspek kependudukan, sifat demografi Indonesia menunjukan pemerataan yang tidak seimbang. Perbedaan  demografi secara regional baik yang berkenaan dengan unsur fisis maupun unsur non fisis, memberikan dasar yang berbeda dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di kawasan masing-masing.

Landasan-landasan geografi yang perlu diperhatikan sesuai dengan kondisi regional setempat, yaitu lokasi, kondisi demografi, prasarana dan sarana, potensi sumber daya, sosial budaya setempat, kesuburan tanah, hidrologi dan topografi region masing-masing. Memperhatikan lokasinya, apakah perbatasan dengan negara tetangga, di daerah pegunungan, di daerah dataran rendah, daerah pedalaman, di pantai, daerah aliran sungai dan lain-lainnya. lokasi region tersebut, memberikan landasan bagi pembangunan setempat apakah akan daerah pelabuhan, kawasan industri, kawasan pertanian, daerah pariwisata, kota dan perkampungan  pelajar dan mahasiswa, kawasan perdagangan dan lain-lain. Dari faktor lokasi saja sudah cukup banyak alternatif yang dapat diketengahkan.

Landasan kependudukan yang wajib diperhatikan bagi pembangunan juga berkenaan dengan kualitas kehidupannya, tingkat pendidikan, kombinasi berdasarkan umur, penyebarannya dalam ruang, keadaan sosial budaya, dan lain-lain. Bagi kepentingan pembangunan, jika region tersebut penduduknya sangat rengang, berarti perlu mendatangkan penduduk dari wilayah lain, jika kesuburan tanah, dan keadaan hidrologi memadai, bahkan region tersebut dapat dibangun sebagai daerah trasmigrasi. Selain menambah sumber daya manusia  bagi ketenagakerjaan juga dapat dibina integrasi nasional.

Tingkat pendidikan penduduk dan kebutuhan akan pendidikan, memberi landasan tentang perencanaan, pengembangan dan pembangunan pendidikan region yang bersangkutan. aspirasi, jumlah, penyebaran dan tingkat penduduk, menggambarkan lapangan pekerjaan yang bagaimana cocok pada region tersebut agar nantinya ada relevannya.

Aspek potensi sumber daya yang ada di suatu region, terkait dengan kebutuhan pembangunan yang wajib diadakan, memperhatikan jenis sumber daya yang ada di kawasan tadi nantinya mampu menompang pembangunan.

Prasarana dan sarana yang ada di suatu kawasan, berupa jalan, jembatan, jaringan telekomunikasi, kendaraan, pelabuhan, terminal dan lain sebagainya, memberikan landasan terhadap kelancaran dan pelaksanaan pembangunan setempat. Jika prasarana ini belum memadai perencanaan dan penbangunan wajib diarahkan pada pembangunan di sektor ini.

Keadaan iklim, cuaca, khususnya berkenaan dengan curah hujan sebagai sumber daya air yang mempengaruhi hidrologi serta tinggi rendah temperatur, berpengaruh langsung terhadap sektor pertaniaan dalam arti luas (cocok tanam, perkebunan, peternakan, perikanan).

Keadaan morfologi dan topografi wilayah Indonesia dari satu region ke region lainnya yang tidak seragam. Hal ini member landasan perencanaan pengembangan dan pembangunan sektor pertaniaan, prasarana dan sarana (jalan, medan, jembatan telekomunikasi) dan biasanya morfologi dan topografi berpengaruh terhadap sektor pariwisata, karena morfologi dan topografi juga secara alamiah menganugrahkan keindahan alam yang dapat dimanfaatkan.

Hidrologi setempat seperti sungai, danau rawa dan laut, keadaan hidrologi secara langsung berpengaruh terhadap perkembangan dan pembangunan kepariwisataan, dalam perkembangan kependudukan, ekonomi, pemukiman dan perkotaan dewasa ini di Indonesia keadaan hidrologi cukup menjadi masalah yang wajib ditangani secara terencana. (Sumaatmaja, 1988)

dsc_0169

Sumber gambar: dokumen mimin…

KONSEP WILAYAH (region)

Wilayah didefinisikan sebagai suatu unit geografi yang dibatasi oleh krieria tertentu yang bagian-bagiannya tergantung secara internal. Wilayah dapat dibagi menjadi 4 jenis yaitu:

  1. Wilayah Homogen, adalah wilayah yang dipandang dari satu aspek/criteria yang mempunyai sifat-sifat atau ciri-ciri yang relatif sama. Sifat-sifat yang homogen itu misalnya dalam hal ekonomi, contohnya: daerah dengan struktur produksi dan konsumsi yang homogen. Dalam hal geografi contohnya daerah yang memilki topografi dan iklim yang sama.
  2. Wilayah Nodal, adalah wilayah yang secara fungsional mempunyai ketergantungan antara pusat dan daerah belakangnya. Tingkat ketergantungan ini dapat dilihat dari arus penduduk, faktor produksi, barang dan jasa, komunikasi dan transportasinya juga.
  3. Wilayah Administrasi, adalah wilayah yang batas-batasnya ditentukan berdasarkan kepentingan administrasi pemerintah atau politik, seperti: propinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan, dan RT/RW.
  4. Wilayah Perencanaan,  adalah wilayah yang memperlihatkan koherensi atau kesatuan keputusan-keputusan ekonomi. Wilayah perencanaan dapat dilihat sebagai wilayah yang cukup besar untuk memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan penting dalam penyebaran penduduk dan kesempatan kerja. Wilayah perencanaan harus memiliki cirri sebagai berikut: (a) cukup besar untuk mengambil keputusan-keputusan investasi berskala ekonomi, (b) mampu mengubah industri sendiri dengan tenaga kerja yang ada, (c) mempunyai struktur ekonomi yang homogen, (d) mempunyai sekurang-kurangnya satu titik pertumbuhan, (e) menggunakan suatu cara pendekatan perencanaan pembangunan (f) masyarakat dalam wilayah itu mempunyai kesadaran bersama terhadap persoalan-persoalannya. (Budiharsono, 2001:14-16)

 

Masalah Pembangunan Region

Tiap region di wilayah Indonesia yang luas ini selain memiliki sumber daya dan kondisi geografi yang berbeda- beda, juga menghadapi masalah yang berbeda dalam pengembangan dan pembangunan regional masing- masing. Oleh karena itu bagi kepentingan pengembangan dan pembangunan regional yang mendukung pembangunan nasional yang meyakinkan, wajib melakukan studi, penelitian dan analisis geografi secara mendalam terlebih dahulu. Studi ini memberikan jaminan terhadap pemanfaatan ruang secara tepat guna yang berdaya guna dalam menciptakan hasil guna yang setinggi-tingginya.

Jumlah dan penyebaran penduduk yang berbeda-beda di tiap region, bukan hanya menjadi masalah bagi region masing-masing, juga menjadi masalah bangsa dan Negara Indonesia. Masalah ini sudah menjadi dasar perencanaan pengembangan dan pembangunan kependudukan di Indonesia. Pembangunan kependudukan yang terungkap dalam kebijakan kependudukan, bukan hanya berkenaan dengan keluarga berencana melainkan juga terkait dengan peningkatan kualitas pendidikan, ketenaga kerjaan, keahlian dan kepemimpinan.( Tap. MPR RI No. II/MPR/1983. Bab IV)

 

Kebijaksanaan pembangunan regional

            Kebijaksanaan pembangunan regional adalah segala usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembangunan meningkatkan kualitas kehidupan dan kualitas lingkungan dalam region tersebut.

Dalam menerapkan kebijakan regional juga harus menerapkan pendekatan yang berbeda sesuai dengan kondisi geografi dan sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Asas adil dan merata yang diterapkan dalam pembangunan nasional yang diterapkan dalam pembangunan regional, berarti setiap daerah memiliki kesempatan yang sama dalam pembangunan, tetapi pada pelaksanaannya dengan modal dasar dan factor dominan. Dengan demikian pembangunan regional harus disesuaikan dengankondisi pada daerah bersangkutan demi kesejahteraan dan peningkatan kualitas lingkungan.

 

Ada 3 tahapan dalam pembangunan regional, yaitu pra pembangunan, proses pembangunan, dan pasca pembangunan.

 

Pra Pembangunan                   Proses Pembangunan              Pasca Pembangunan

 

Dalam melaksanakan pembangunan dan kebijakan pembangunan regional, pada tahap pra pembangunan kita wajib melakukan penelitian yang dimulai dengan identifikasi modal dasar apa yang dimiliki region yang bersangkutan, faktor dominan apa yang melandasinya dan masalah-masalah apa yang menjadi hambatan yang harus diatasi. Ketiga pokok tersebut wajib ditelaah secara mendalam demi keberhasilan pelaksanaan pembangunan. Untuk itu perlu melakukan pengumpulan data region yang akan dikembangkan dan dibangun di region yang bersangkutan. Data yang terkumpul kemudian dianalisis untuk ditarik kesimpulannya. Kesimpulan tersebut menjadi dasar perencanaan bagi pembuat keputusan untuk mengembangkan “ kebijaksanaan pembangunan regional”.

 

 

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembangunan regional antara lain:

  1. faktor hidrografi, sebagai peninjang secara langsung dalam kehidupan, menjamin pertanian, pembangkit tenaga, dan prasarana serta sarana komunikkasi transportasi.
  2. faktor topografi, dalam hal ini tinggi rendahnya permukaan bumi setempat yang memberi landasan terhadap pembangunan yang akan dikembangkan di region yang bersangkutan.
  3. faktor klimatologi, merupakan factor domiana yang berpengaruh terhadap gerak langkah manusia termasuk perencanaan dan pelaksanaan pembangunan regional dan nasional.
  4. faktor flora dan fauna merupakan sumber daya hayati, contonya tumbuh-timbuhan, hutan, hewan di darat maupundi peraiaran yang menunjang pengembangan dan pembangunan region tersebut.
  5. faktor kemungkinan pengembangan, merupakan faktor yang wajib diperhitungkan bagi masa depan mengingatpertumbuhan dan perkembangan penduduk dengan segala kebutuhannya yang tidak kunjung akan berhenti. Factor ini menunjang stabilitas kehidupan dengan pengembangan dan pembangunannya pada masa yang akan datang.

 

Modal dan faktor diatas, dianalisis dan dirumuskan menjadi aspek-aspek geografi yang dapat diteliti bagi kepentingan perancangan, perencanaan dan pembangunan regional serta nasional. Selanjutnya, tiap aspek tadi diukur tingkat kualitasnya untuk menentukan kebijakasanaan regioanal dalam rangka membuat keputusan tentang model pembangunan yang akan dikembangkan. Untuk kepentingan pengukuran tadi, kita wajib menentukan parameter yang menjadi pedoman penentuan kualitas aspek yang menunjang atau menjadi masalah/penghambat pembangunan.

Kembali kepada identifikasi, pengumpulan data dan analisis aspek-aspek geografi region yang akan dikembangkan, aspek-aspek geografi yang akan diidentifikasi dan dianalisis meliputi:

 

  1. Keadaan lahan dengan kondisi morfooginya
  2. Kemungkinan pengmbangan transportasi-komunikasi
  3. Kemungkinan pengembangan teknologi
  4. Kependudukan (demografi)
  5. Hidrologi
  6. Iklim dan cuaca
  7. Kemungkinan penjagaan dan pelestariaan lingkungan
  8. Lokasi relatif terhadap daerah lain.

Secara umum, aspek-aspek diatas merupakan modal dasar dan faktor dominan bagi pengembangan industri, pemukiman dan daerah perdagangan. Tetapi sektor manakah yang paling sesuai dan pada lokasi mana dari region itu yang paling serasi bagi sektor tersebut untuk dikembangkan, disini perlu pengumpulan data dan analisis lebih lanjut. (Sumaatmaja, 1988)

 

 

Pelaksanaan Pembangunan Regional

Dalam pelaksanaan pembangunan regional, diperlukan perencanaan yang tepat. agar sesuai dengan  tujuan yang dikehendaki. Proses perencanaan pembangunan harus dikaitkan dengan orientasi untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan masyarakat. Perencanaan pembangunan yang ideal dilaksanakan memenuhi beberapa dimensi, yaitu :

  1. a) Dimensi Substansi, artinya rencana pembangunan yang disusun dari sisi materinya harus sesuai dengan aspirasi dan tuntutan yang berkembang di masyarakat.
  2. b) Dimensi Proses, artinya proses penyusunan rencana pembangunan yang dilaksanakan memenuhi kriteria scientific (memenuhi kaidah keilmuan atau rational) dan demokrasi dalam pengambilan keputusan,
  3. c) Dimensi Konteks, artinya rencana pembangunan yang telah disusun benar-benar didasari oleh niat untuk mensejahterakan masyarakat dan bukan didasari oleh kepentingan-kepentingan tertentu,

Sumber : http://www.cimbuak.net/content/view/85/5/

Perkembangan kehidupan manusia sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang membawa dampak terhadap pemanfaatan ilmu pengetahuan dan tekonolgi bagi kehidupan umat manusia pada umumnya. Contohnya ada komputer, handphone, dan lain-lainnya. Hal tersebut membuat kemudahan-kemudahan manusia dalam melaksanakan pekerjaan sesuai bidangnya. (Sumaatmaja, 1988)

Pelaksanaan pembangunan di Indonesia seharusnya berwawasan lingkungan. Artinya, pembangunan dalam suatu sektor kehidupan harus memperhatikan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu ada perencanaannya, yang wajib disertai analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan analisis manfaat dan resiko  terhadap lingkungan (AMRIL). Untuk memahami apa dampak itu dapat dilihat pada diagram alir berikut:

 

Kegiatan manusia

 

 

Akibat

 

 

Dampak

 

 

                                    Menimbulkan                                      menimbulkan

 

Kegiatan yang dilakukan manusia sangat bermacam-macam , misalnya dalam usulan dalam kegiatan pembangunan. Umpamanya usualan tersebut adalah pembuatan jalan raya yang memeotong sebuah pinggiran kota. Bila tegak lurus dengan jalan raya itu terdapat puluhan aliaran sungai-sungai (besar maupun kecil), maka suatu sitem drainase yang kurang baik yang dapat menimbulkan dampak banjir, maka dampaknya akan dirasakan oleh penduduk setempat. Hal ini berarti bahwa dalam memanfaatkan lingkungan alam dalam bentuk pembangunan, wajib memperhatikan kelestarian dan kualitas lingkungan agar manfaat serta kegunaanya tetap langgeng.(Soeriatmaja,2000:60)

Penduduk dan kebutuhannya baik secara kuantitatif maupun  kualitatif akan terus meningkat. Hal ini yang mendorong pertumbuhan produksi barang-barang konsumsi dengan perdagangannya. Sehingga volume perdagangannya juga terus meningkat.

By geographunp

El Nino dan La Nina

pola cuaca normal

El Nino dan La Nina, mirip seperti nama orang. Tetapi, sebenarnya El Nino dan La Nina merupakan gejala iklim yang menyimpang dari kondisi normal. Penyimpangan ini merupakan gejala ekstrem osilasi selatan yang penyebabnya masih belum jelas. Gejala El Nino dan La Nina terjadi setiap kurun waktu 2 sampai dengan 10 tahun. Wilayah yang terkena dampak dari El Nino dan La Nina adalah Asia, Australia, Afrika, dan Amerika Selatan.

El Nino

Pola El nino

El Nino adalah terjadinya pemanasan temperatur air laut di pantai barat Peru–Ekuador yang menyebabkan gangguan iklim secara global. El Nino datang mengganggu setiap dua tahun sampai tujuh tahun sekali. Peristiwa ini diawali dari memanasnya air laut di perairan Indonesia yang kemudian bergerak ke arah timur menyusuri ekuator menuju pantai barat
Amerika Selatan sekitar wilayah Peru dan Ekuador. Bersamaan dengan kejadian tersebut air laut yang panas dari pantai barat Amerika Tengah, bergerak ke arah selatan sampai pantai barat Peru-Bolivia sehingga terjadilah pertemuan air laut panas dari kedua wilayah tersebut. Massa air panas dalam jumlah besar terkumpul dan menyebabkan udara di daerah itu memuai sehingga proses konveksi ini menimbulkan tekanan udara menurun (minus). Kondisi ini mengakibatkan seluruh angin yang ada di sekitar Pasifik dan Amerika Latin bergerak menuju daerah tekanan rendah tersebut. Angin muson di Indonesia yang datang dari Asia dengan membawa uap air juga membelok ke daerah tekanan rendah di pantai barat Peru – Ekuador. Peristiwa tersebut mengakibatkan angin yang menuju Indonesia hanya membawa uap air yang sedikit sehingga kemarau yang sangat panjang terjadi di Indonesia. Akibat peristiwa tersebut juga dirasakan di Australia dan Afrika Timur. Sementara itu, di Afrika Selatan justru terjadi banjir besar dan menurunnya produksi ikan akibat melemahnya up-welling. Kemarau panjang akibat El Nino biasanya disertai dengan kebakaran rumput dan hutan. Pada tahun 1994 dan 1997, baik
Indonesia maupun Australia mengalami kebakaran akibat peristiwa El Nino.

La Nina

Pola La NIna

Peristiwa La Nina merupakan kebalikan dari El Nino. La Nina berarti bayi perempuan. La Nina berawal dari melemahnya El Nino sehingga air laut yang panas di pantai Peru dan Ekuador bergerak ke arah barat dan suhu air laut di daerah itu berubah ke kondisi semula (dingin) sehingga up-welling muncul kembali sehingga kondisi cuaca kembali normal. La Nina
juga berarti kembalinya kondisi ke keadaan normal setelah terjadinya El Nino. Air laut panas yang menuju arah barat tersebut pada akhirnya sampai di Indonesia yang bertekanan dingin sehingga seluruh angin di sekitar Pasifik Selatan dan Samudra Indonesia bergerak menuju Indonesia. Angin tersebut menyebabkan hujan lebat dan banjir karena sangat banyaknya uap air yang dibawa. Peristiwa La Nina di Indonesia pada tahun 1955, 1970, 1973, 1975, 1995, dan 1999 terhitung sejak Indonesia merdeka (1945).

SUmber :

Geografi SMA Kelas X-Iwan Gatot Sulistyanto-2009

By geographunp

Senja di Ufuk Barat

cropped-amazing-nature-backgrounds-copy

Matahari kembali keperaduannya, kota yang berdekatan dengan pantai ini pun menyaksikan laut menenggelamkan matahari yang besar itu. Gerimis juga mengiringi senja tuk sampai pada malam. Hiruk Pikuk suara kendaraan sama sekali tak dapat mengalihkan pandanganku pada seorang gadis berusia sekitar 8 tahunan. Ya, gadis kecil itu berdiri di sebuah SPBU dengan kotak bertuliskan “mohon bantuan” ditangannya. Tetesan air hujan tak sedikitpun buat dia menyerah untuk duduk atau beristirahat barang sebentar saja. Matanya yang berbinar menengadah ke atas seakan menyalahkan hujan karena membasahi tubuhnya. Perlahan ia mengusap wajahnya yang basah, sembari berterima kasih kepada pengendara yang menaruh kertas – kertas berharga ke dalam kotak yang dipeluknya. Ya, kertas itu untuk kebutuhan hidup hari ini dan esok.

Jauh aku melihatnya, terbesit pula niat dihati tuk memberi secarik kertas yang dibutuhkan oleh setiap orang kepadanya. tapi, aku tak bisa karena berada dalam bus yang pintunya terbuka otomatis dikendalikan oleh sang sopir. Ah, pikirku.. hanya doa yang ku sampaikan pada Ilahi, agar hidupnya diridhoi dan berada dalam jalan Islam yang damai. Tak kuasa aku menahan tangis, gadis sekecil itu berusaha mengais rezeki seperti itu. aku tak tahu apakah dia homeless atau diperintah seseorang untuk berlaku demikian, Yang terpikir olehku, semoga saja dia selalu di dalam lindungan Allah dan menjalankan hidup sesuai dengan yang diridhoi Allah…

Semoga setiap kita selalu bersyukur dan mencari keridoanNya….

*sebuah kisah pada senja di ufuk barat

By geographunp

Kembali pada ALam…

BNPBData dampak bencana alam pada tahun 2014. Bencana akibat faktor hidrometeorologi paling mematikan. (sumber: http://sains.kompas.com/read/2014/12/30/21140511/Tahun.2014.Bencana.Hidrometeorologi.Paling.Mematikan.)

Pada beberapa bulan terakhir ini, Indonesia mengalami banyak permasalahan hidup. Baik itu dari aspek sosial manusianya maupun dari aspek lingkungan yang ditempatinya. Kali ini admin akan membahas tentang masalah Indonesia ditilik dari aspek lingkungannya dan kemudian akan kita pautkan dengan aspek sosial manusia yang tinggal di dalamnya.

Baru-baru ini kita semua banyak sekali mendengar musibah yang melanda Indonesia, mulai dari longsor di Banjarnegara, banjir yang tidak hanya terjadi di Jakarta namun juga meluas ke wilayah Bandung, jatuhnya pesawat airasia rute surabaya-Singapura, kebakaran di beberapa lokasi wilayah Indonesia serta letusan gunung api. Semua elemen bumi lengkap menyemburkan kemarahannya melalui bencana.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat ini berkembang membuat Indonesia kini mulai melakukan pembangunan dalam segala bidang, sehingga kita terlupa akan pentingnya masalah lingkungan hidup. Kita semua tahu bahwasannya Negara ini kaya dengan Sumber Daya Alamnya, dan tidak seharusnya SDA kita dikeruk oleh negara lain. kita yang lahir di tanah ini, dan kita juga yang harus menjaga kelestariannya. Meski pemerintah tidak dapat diharapkan 100%, secara individual kita bisa menjaganya dimulai dari kebiasaan kita yang buruk agar diubah ke yang lebih baik lagi. Seperti buang sampah pada tempatnya, penggunaan kendaraan bermotor kurangi dan alangkah baiknya kita kembali ke alam seperti memakai sepeda, bukankah itu lebih menyehatkan.

ke luar dari hal di atas, Indonesia yang dikenal dengan kekayaan SDAnya ini secara keseluruhan akan menjadi tempat bergantungnya negara-negara di dunia sebagai penghasil oksigen. Namun, saat ini akiba global warming hutan menjadi kering kerontang, belum lagi ulah manusia yang menebang pohon secara liar. Ingat, semua bencana ini lebih banyak terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Memang manusia yang lain merusak, tapi dampaknya ke seluruh umat manusia di bumi. Seperti pepatah yang sering kita dengar, “rusak susu sebelanga hanya gara-gara nila yang setitik”. mari kita renungi kembali pepatah ini dan kita camkan maknanya.

**Bersambung tahun depan, tahun 2015″

By geographunp

Individual Differences in “The Teaching Gap” Oleh : Rahmi Fitri

Be-Different-think-different-29142411-900-600

Sumber gambar: http://dianahere.blogspot.com/2012/08/berbeda-itu-indah-apa-salahnya.html

Pendidikan memang menjadi perhatian besar bagi setiap bangsa-bangsa dalam menginvestasikan sumber daya manusianya di masa depan. Setiap Negara menginginkan yang terbaik bagi cita-cita bangsanya di kemudian hari. Sama halnya dengan Negara kita Indonesia, Indonesia sebagai Negara yang masih diposisikan sebagai Negara berkembang memang wajib memberikan perhatian besar dalam dunia pendidikannya. Kita lihat saja dari Data IPM tahun 2012, Indonesia menempati urutan ke-111 dari 182 negara yang ada dengan urutan ke-110 adalah Palestina Negara yang saat ini sedang dalam konflik (Sumber:Wikipedia). Bayangkan saja bagaimana rendahnya Indeks Pembangunan Manusia Indonesia? Maka dari itu, Indonesia memang harus memberikan sesesuatu yang berarti untuk dunia pendidikan.

Dalam matakuliah Micro-teaching di program studi pendidikan Geografi UNP yang mewajibkan kita memiliki buku “The Teaching Gap”, ini adalah sesuatu yang berarti diberikan oleh bapak Nofrion,S.Pd, M.Pd untuk kita mahasiswa sebagai bahan perhatian dan penelaahan terhadap bagaimana menjadi guru yang baik dan benar. Sebagaimana yang sering diucapkan beliau bahwasannya guru itu adalah seseorang yang harusnya dapat diGUgu dan ditiRU (GURU). Melalui buku ini beliau berusaha membuka mata kita para calon guru masa depan Indonesia untuk memperbaiki pendidikan yang selama ini terasa semrawut terutama dalam pelaksanaannya. Dan upaya beliau ini memang memberikan dampak yang besar bagi saya pribadi terhadap bagaimana seorang guru itu memang menjadi penerang dalam kegelapan dalam artian bukan seperti lilin yang menghancurkan dirinya sendiri (seperti yang beliau katakan disaat perkuliahan minggu lalu) namun memang benar-benar penerang dalam kegelapan. Maka dari itu, ini sedikit tulisan yang saya dapat dari sedikit membaca buku The Teaching Gap hal.94 – 95.

Dalam bab Teaching is a Cultural Activity, saya menemukan poin Individual Differences, walau masih belum membaca halaman sebelumnya namun perhatian saya tertarik dengan dua suku kata ini. Pada halaman ini digambarkan perbedaan pandangan dari guru di Amerika dengan guru di Jepang. Guru di Amerika menganggap bahwa perbedaan individu merupakan sebuah rintangan dalam mengefektifkan pengajaran. Menurut mereka perbedaan tingkat prestasi dan kemampuan siswa membutuhkan instruksi berbeda pula sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga belajar melalui tutor menjadi hal terbaik dalam pembelajaran mereka. Berbeda dengan pandangan guru di Jepang yang sebaliknya menganggap bahwa justru dengan perbedaan individu inilah yang menjadi manfaat dalam proses dan pengefektifan pembelajaran, dimana dari perbedaan individu ini mereka dapat menemukan ide dan solusi yang banyak mencakup diskusi dan pemikiran yang timbul dari siswa dalam mempelajari sesuatu hal. Dan bagi guru Jepang, perbedaan dalam suatu kelompok adalah sangat bermanfaat bagi mereka karena hal tersebut membuat guru dapat merencanakan pembelajaran lebih baik dan lebih lengkap lagi dari sebelumnya. Dan tentu saya sangat setuju dengan penulisnya mengenai ini:

Not all students will be prepared to learn the same things from each lesson, and the different methods that are shared allow each student to learn some things”.

“ tidak semua siswa disiapkan mempelajari hal yang sama dalam setiap pelajaran, dan metode berbeda yang dibagi memberikan setiap siswa tersebut untuk mempelajari beberapa hal”.

Pemikiran saya tentang kalimat ini adalah bahwasannya setiap individu itu hadir dengan takdir yang berbeda, setiap kita tidak disiapkan untuk mempelajari hal yang sama namun dengan adanya saling berbagi, setiap kita bisa mendapatkan beberapa hal yang bahkan lebih dari apa yang harus kita pelajari dalam suatu pelajaran. Melalui perbedaan individu inilah efektifitas mengajar guru dapat diperbaiki dan direncanakan lebih baik lagi agar pelajaran yang dipelajari siswa benar-benar dipelajari bukan diketahui.

Serta terkait dengan LSLC yang diterapkan pak Dion di kelas micro-teaching kita, saya pikir beliau terinspirasi dari pandangan guru Jepang dalam menilai perbedaan individu siswa sebagai manfaat penting dalam efektifitas pengajaran maupun pembelajaran. Dengan perbedaan itulah siswa dapat belajar antar mereka sehingga terjadilah hubungan alami  dimana mereka saling membutuhkan satu sama lain, serta memahami perbedaan mereka dalam pengalamannya mengenai persoalan duniawi (sophistication).

Dari yang saya dapatkan ini, maka timbul suatu pertanyaan dalam diri saya, bagaimanakah dengan guru Indonesia selama ini ?? dimana kita sendiri mengalami dalam kelas maupun yang kita saksikan terhadap perbedaan individu ini???? Dan saya pun menjawab sendiri dari apa yang saya saksikan bahwa selama ini guru Indonesia kebanyakan mengadopsi pandangan guru Amerika yang membedakan pengajaran terhadap kemampuan individu yang berbeda, di mana kita dapat menemukan lokal unggul atau lokal bilingual atau sekolah unggulan sekalipun di setiap wilayah NKRI. Memang efektif untuk siswa yang memiliki kemampuan unggul, namun ini dapat mematikan mental mereka yang dibilang belum termasuk unggul. Lalu apa yang harus guru lakukan terhadap peristiwa ini? Bagaimana guru seharusnya bertindak??

Selanjutnya pertanyaan ini, saya tunggu jawabannya dari calon guru masa depan Indonesia….       q\(^_^)/p

By geographunp

Angka Kematian Ibu.

Orang yang memiliki peran penting dalam proses kelanjutan kehidupan manusia di muka bumi ini adalah seorang ibu. Ibu yang melahirkan generasi – generasi yang akan memegang tongkat estafet masa depan tanah air ini. Intinya, ibu merupakan indikator paling penting dalam pembangunan berkelanjutan bangsa yang besar ini.

Begitu pentingnya peran ibu, hal ini menjadi perhatian besar bagi seluruh negara di dunia untuk menjaga kesehatan para ibu. Seluruh pemerintah di masing – masing negara berusaha keras untuk mengurangi angka kematian ibu. Namun sayang, Indonesia sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia berdasarkan survey demografi tahun 2012 di WHO, memiliki angka kematian ibu yang cukup tinggi.  Baru – baru ini Indonesia mencatat 369 per 100.000 angka kematian ibu pada tahun 2013 ini. Angka ini bukanlah angka kecil yang mana ini berarti setiap hari ada banyak ibu yang meninggal setelah melahirkan di seluruh kawasan Indonesia. Jelas sekali angka kematian ibu menunjukkan betapa buruknya layanan kesehatan masyarakat yang masih menjadi permasalahan pelik negara ini. Dilansir dari hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) bahwasannya dari tahun 2002 hanya 23% ibu yang memeriksakan kehamilannya pada tenaga kesehatan dan telah meningkat di tahun 2007 sebanyak 66% ibu sudah memeriksakan kehamilannya pada tenaga medis. 

di sini perlu peran pemerintah dalam mengintensifkan kesehatan untuk para ibu di Indonesia agar selalu menjaga kehamilannya. Namun sayang, pada kondisi terakhir banyak moral para ibu terganggu seperti banyaknya yang menggugurkan kandungannya serta juga yang membuang bayinya juga ada yang tega membunuh anaknya sendiri. dalam hal ini, Indonesia juga dihadapkan pada keadaan moral ibu-ibu maupun calon ibu di negara ini. Maka dari itu, tidak hanya kesehatan para ibu yang perlu dikhawatirkan tapi juga moralnya…

 

sekian.. semoga bermanfaat…

By geographunp

Materi tentang Pembangunan Regional

Berdasarkan berita yang saya dapat dari koran Media Indonesia edisi Minggu 10 November 2013 yang berjudul “Targetkan Swasembada Padi Kementan Luncurkan Dua Mesin”. Di dalam berita ini dipaparkan bahwasannya Kementrian Pertanian (kementan) menargetkan produksi padi mencapai surplus 40 juta ton dengan meluncurkan dua mesin yaitu mesin tanam Jarwo Transplanter dan mesin panen Combine Harvester. Mentri pertanian menyebutkan bahwa mesin tanam padi mampu menggantikan 20 tenaga kerja tanam per hektare, sedangkan satu unit mesin panen bias memanen padi seluas 4 – 6 hektare (Ha) per hari. Menteri pertanian Suswono berharap alat ini, dapat diproduksi secara missal dan para pengusaha diharapkan bisa berinvestasi pada proyek tersebut. Berbeda dengan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih yang mengatakan bahwa kedua mesin tersebut memang bisa meningkatkan produksi padi, namun hal tersebut bukanlah yang seharusnya menjadi prioritas. Ketua SPI menyebutkan dilihat dari banyaknya petani gurem di Indonesia, proyek yang diluncurkan mentan bisa saja menimbulkan angka pengangguran yang besar. Maka menurutnya proyek kedua mesin tersebut akan optimal bila disertai dengan pembagian lahan bagi keluarga petani. 

Berkaitan dengan materi kita tentang pembangunan regional yang mana menurut (Sumaatmaja, 1989: 49), Pembangunan regional adalah usaha meningkatkan kualitas kehidupan maupun kualitas lingkungan, sektor dan jangkauannya sangat luas. Berdasarkan pengertian pembangunan regional menurut Sumaatmaja, dapat kita ambil pengertian juga bahwa pembangunan regional itu merupakan upaya pemerintah nasional dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat luas dalam wilayah regionnya.

Menurut saya, sesuai dengan pengertian pembangunan regional itu sendiri apabila kita kaitkan dengan informasi yang saya dapat dari Koran MI, saya lebih setuju kepada pendapat ketua SPI bahwasannya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat nasional kita lebih dulu perlu melihat kondisi nyata dari para petani Indonesia yang umumnya memang tidak memiliki lahan garapan sendiri. Jika seandainya kedua mesin yang diluncurkan mentan memang harus diproduksi massal, maka para petani gurem harus diapakan nasibnya?. Demi mencapai pembangunan regional itu sendiri maka akan lebih baik mentan mendahulukan pembagian lahan untuk keluarga petani, terutama petani gurem sehingga apabila hal itu telak dilaksanakan, upaya peluncuran kedua mesin akan optimal sesuai dengan yang disampaikan oleh ketua SPI Henry Saragih.

By geographunp

KULIAH UMUM BERSAMA DIREKTUR GEOTHERMAL KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA DI RUANG SERBA GUNA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG KERJA SAMA JURUSAN GEOGRAFI DAN TEKNIK PERTAMBANGAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG (Part 1)

Senin, 03 Maret 2014 suasana ramai dan sesak di ruang serba guna FT UNP, hal ini dikarenakan adanya kuliah umum yang diadakan oleh kerja sama Jurusan Geografi dan Teknik Pertambangan FT UNP. 

Sebelum perkuliahan dimulai, peserta kuliah menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suasana khidmat sungguh sangat terasa diruangan yang cukup besar itu. Sesuai dengan permintaan Pak Tisnaldi, beliau sangat senang dan semakin bersemangat ketika perkuliahan ini dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, untuk seterusnya beliau meminta kepada mahasiswa dan dosen yang hadir agar setiap perkumpulan ataupun seminar agar menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk menyatukan keberagaman kita warga Indonesia serta membangun semangat NKRI yang mana ada makna besar dibalik Lagu Indonesia Raya tersebut.

By geographunp
Sampingan

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.      Latar Belakang

Pertumbuhan dan dinamika penduduk selalu tidak lepas dari tiga faktor penting, yaitu kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), dan migrasi. Ketiga hal ini berkontribusi besar dalam masalah kependudukan yang ada.

Kematian adalah salah satu komponen dasar yang mempengaruhi masalah kependudukan. Karena merupakan komponen penting maka perlu dikaji tentang kematian (mortalitas) itu sendiri. Maka dari itu kami mengkaji tentang kematian (mortalitas) dari sisi geografi penduduk.

 

  1. B.       Rumusan Masalah
    1. Apa yang dimaksud dengan mortalitas(kematian) dan istilah-istilah Infant Mortality Rate, Crude Date Rate, Mother Mortality rate, dan  Harapan Hidup?
    2. Faktor-faktor Apasajakah yang memicu terjadinya mortalitas(kematian) manusia?
    3. Bagaimana tingkat kematian di Indonesia?
    4. Bagaimanakah perbandingan tingkat kematian di Indonesia dengan Negara-negara tetangga?
    5. Bagaimanakah dampak kematian(mortalitas) terhadap pembangunan di Indonesia?
    6. Daerah manakah di Provinsi Sumatera Barat ini yang memiliki tingkat kematian paling tinggi?

 

  1. C.      Tujuan
    1. Mengetahui pengertian  mortalitas(kematian),Infant Mortality Rate, Crude Date Rate, Age Spesific Death Rate, Mother Mortality rate, dan Harapan Hidup.
    2. Mengetahui Faktor-faktor yang memicu terjadinya mortalitas(kematian) manusia.
    3. Mengetahui tingkat kematian di Indonesia.
    4. Mengetahui perbandingan tingkat kematian di Indonesia dengan Negara-negara tetangga.
    5. Mengetahui dampak kematian(mortalitas) terhadap pembangunan di Indonesia.
    6. Mengetahui salah satu daerah di Provinsi Sumatera Barat  yang memiliki tingkat kematian paling tingg

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.      Mortalitas(Kematian)

Adapun pengertian kematian atau mortalitas menurut UN dan WHO, “mati” adalah keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen, yang bisa terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.

Konsep-konsep lain yang terkait dengan pengertian mortalitas adalah:

  1. Neo-natal death adalah kematian yang terjadi pada bayi yang belum berumur satu bulan.
  2. Lahir mati (still birth) atau yang sering disebut kematian janin (fetal death) adalah kematian sebelum dikeluarkannya secara lengkap bayi dari ibunya pada saat dilahurkan tanpa melihat lamanya dalam kandungan.
  3. Post neo-natal adalah kematian anak yang berumur antara satu bulan sampai dengan kurang dari satu tahun.
  4. Infant death (kematian bayi) adalah kematian anak sebelum mencapai umur satu tahun.

 

Jadi, kematian (mortalitas) merupakan kondisi dimana hilangnya tanda-tanda kehidupan secara tetap atau permanen setelah kematian yang kemudian menjadi komponen dalam demografi.

 

Infant Mortality Rate(Kematian Bayi)

Tingkat kematian bayi adalah banyaknya kematian bayi yang terjadi pada kelahiran per 1000 bayi. Merupakan cara pengukuran yang dipergunakan khusus untuk menentukan tingkat kematian bayi. Angka kematian bayi ( Infrant Mortality Rate) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat karena dapat menggambarkan kesehatan penduduk secara umum. Angka ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka kematian bayi tersebut dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun (BPS).

 

Rumusnya:

 

 

Crude Death Rate(Angka Kematian Kasar)

Angka Kematian Kasar adalah angka yang menunjukkan banyaknya kematian per 1000 penduduk pada pertengahan tahun tertentu (Data Statistik Indonesia-Angka Kematian Kasar-Rumus), disuatu wilayah tertentu. Ada pun rumusnya sebagai berikut :

Rumus:

CDR = D/P x K

Dimana:
CDR    = Crude Death Rate (Angka Kematian Kasar).

D         = Jumlah kematian (death) pada tahun tertentu

P          = Jumlah penduduk pada pertengahan tahun tertentu

K         = Bilangan konstan 1000

Umumnya data tersedia adalah ”jumlah penduduk pada satu tahun tertentu” maka jumlah dapat sebagai pembagi. Kalau ada jumlah penduduk dari 2 data dengan tahun berurutan, maka rata-rata kedua data tersebut dapat dianggap sebagai penduduk tengah tahun.

Age Spesific Death Rate(Tingkat Kematian Khusus)

Angka kematian khusus (Age Specific Death Rate/ASDR) yaitu angka yang menunjukkan banyaknya kematian setiap 1.000 penduduk pada golongan umur tertentu dalam waktu satu tahun. Rumusnya adalah jumlah kematian pada umur tertentu dibagi dengan jumlah penduduk umur tertentu pada pertengahan tahun dan dikalikan dengan konstanta yang biasanya bernilai 1000.

Rumus: ASDRx = Dx/Px x 1000

Dimana:
ASDRx           = Angka Kematian khusus umur tertentu (x)

Dx                   = Jumlah Kematian pada umur tertentu selama satu tahun

Px                    = Jumlah Penduduk pada umur tertentu

1000                = Konstanta (k)

 

Mother Mortality Rate(Tingkat Kematian Ibu)

Angka Kematian Ibu (AKI atau Maternal Mortality Rate (MMR) menunjukkan jumlah kemtian ibu karena kehamilan, persalinan dan masa nifas pada setiap 100.000 kelahiran hidup dalam suatu wilayah dan dalam waktu tertentu.

Angka Kematian Ibu (AKI) atau Maternal Mortality Rate (MMR) berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas.

Beberapa determinan penting yang mempengaruhi AKI secara langsung antara lain status gizi, anemia pada kehamilan.  Faktor mendasar penyebab kematian ibu maternal adalah tingkat pendidikan ibu, kesehatan lingkungan fisik maupun budaya, ekonomi keluarga, pola kerja rumah tangga.

 

Tingkat Harapan Hidup

Harapan hidup adalah jumlah diharapkan (dalam arti statistik) tahun kehidupan yang tersisa pada usia yang diberikan. Ini dilambangkan oleh e” x”, yang berarti rata-rata jumlah tahun-tahun berikutnya kehidupan seseorang yang sekarang berusia ” x”, menurut pengalaman kematian tertentu.

Dalam literatur teknis, simbol ini berarti jumlah rata-rata ” lengkap ” tahun hidup tersisa, termasuk pecahan setahun. Statistik terkait termasuk pecahan tahun, arti normal harapan hidup, memiliki simbol dengan lingkaran kecil ” e”.

Harapan hidup dari sekelompok individu bergantung pada perawatan.

Istilah yang dikenal sebagai harapan hidup ini paling sering digunakan dalam konteks populasi manusia, tetapi juga digunakan dalam tanaman atau hewan ekologi; dihitung dengan analisis kehidupan tabel (juga dikenal sebagai aktuaria tabel).

Istilah harapan hidup juga dapat digunakan dalam konteks benda-benda yang diproduksi dan 49.0 tahun Jepang (2008 EST), meskipun Jepang tercatat harapan hidup mungkin telah sangat sedikit meningkat oleh menghitung banyak kematian bayi sebagai anaknya.

Usia tertua rekaman dikonfirmasi untuk setiap manusia adalah 122 tahun (Jeanne Calment). Ini disebut sebagai “maksimum harapan hidup”, yang merupakan batas atas kehidupan, jumlah maksimum tahun setiap manusia dikenal memiliki tinggal.

Angka Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk program pemberantasan kemiskinan.

  1. B.  Faktor-Faktor Kematian(mortalitas)

Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).

  • Faktor pendukung kematian (pro mortalitas)
    Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah: 
    – Sarana kesehatan yang kurang memadai.
    – Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan 
    – Terjadinya berbagai bencana alam 
    – Terjadinya peperangan
    – Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industri
    – Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.

 

  • Faktor penghambat kematian (anti mortalitas)
    Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:
    – Lingkungan hidup sehat.

-Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.
– Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
– Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.
– Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.

 

Ada dua faktor umum yang mempengaruhi mortalitas, yaitu :

  • Faktor langsung, yaitu faktor dari dalam dapat berupa umur, jenis kelamin, penyakit, kecelakaan, kekerasan, bunuh diri dan lain-lain.
  • Faktor tidak langsung, yaitu faktor dari luar berupa tekanan baik fisik maupun psikis, kedudukan dalam perkawinan, kedudukan social-ekonomi, tingkat pendidikan, pekerjaan, beban anak yang dilahirkan, tempat tinggal dan lingkungan, tingkat pencemaran lingkungan, fasilitas kesehatan dan kemampuan mencegah penyakit, serta politik dan bencana alam.

 

  1. C.    Tingkat Kematian di Indonesia

Akibat dari ketidaklengkapan dari angka statistik vital di Indonesia, maka sangatlah sulit untuk memperkirakan dengan tepat perkembangan mortalitas di Indonesia dari masa ke masa. Adapun penguraian perkembangan mortalitas di Indonesia tahun 1961 – 1971 yang diuraikan oleh Larry Heligman (1976) :

  • Selama periode sebelum perang dunia II, CDR di Indonesia sangat tinggi yaitu antara 28-35 per 1000 penduduk. CDR pada periode ini sangat tidak menentu sebagai akibat penyakit tuberculosis, kolera, cacar, wabah pes dan typus.
  • Pada tahun 1930-an CDR terlihat menurun, tetapi ketenangan ini diganggu oleh PD II pada tahun 1941 dan didudukinya Indonesia oleh Jepang dari tahun 1942-1945. Setelah itu disusul oleh perang kemerdekaan dari tahun 1945 hingga tahun 1950. Keadaan ini menyebabkan tingkat kematian di Indonesia meningkat kembali.
  • Tahun 1950 merupaka titik balik dalam arah mortalitas di Indonesia, yaitu memperlihatkan kecendrungan menurun perlahan-lahan. Angka harapan hidup waktu lahirpun terlihat meningkat hingga tahun 1960-an.
  • Setelah tahun 1960, adanya fluktuasi angka kematian dikarenakan oleh naik turunnya produksi pangan, situasi politik dan taraf kesehatan masyarakat. Produksi pangan tidak dapat mengimbangi tingginya pertambahan penduduk.
  • Adanya pembangunan lima tahun pertama dan berkurangnya inflasi sesudah tahun 1968, terjadi perbaikan dalam bidang kesehatan sehingga pada periode ini tampak penurunan tingkat kematian di Indonesia.
  • Pada tahun 1980 terlihat lagi peningkatan kematian yang diakibatkan oleh penyakit kardiovaskuler, radang akut saluran pernafasan, dan penyakit diare.

Pada Rate (CDR) tahun 2007 mencapai 3,6 per 1000 penduduk, dimana hasil ini lebih kecil dari pendataan BPS tahun 2006 (CDR sekitar 6,5) dan hasil dari SKRT tahun 2001 yaiktu CDR-nya sekitar 4 per 1000 penduduk.  Sebelumnya pada tahun 1995-2007 menunjukkan pola peningkatan risiko kematian yang meningkat pada usia diatas 45 tahun, dan paling signifikan terjadi pada kelompok umur diatas 65 tahun (dari sekitar 30% di tahun 1995 menjadi 45% di tahun 2007).

Menurut Survey Demografi Kesehatan  Indonesia  (SDKI) tahun 2007 angka kematian ibu dan bayi mengalami penurunan  yang  cukup signifikan dari  tahun 2004  sampai  tahun 2007. Pada tahun 2004 angka kematian bayi (AKB) sekitar 30,8 persen per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian  ibu (AKI) sekitar 270 per 100 ribu kelahiran. Tahun 2007, AKB mencapai  26,9  persen  per  1000  kelahiran  hidup  dan  AKI  berkisar  248  per  100  ribu kelahiran.

 

Untuk tahun 2012 berdasarkan SDKI sebelum survey berikut gambarannya.

 

Gambar 1. Grafikangkakematianbayi di Indonesia sebelum survey (sumber : RingkasanEksekutif Data danInformasiKesehatanProvinsi Sumatera Barat)

 

 

Gambar 2. GrafikangkakematianBalita di Indonesia sebelum survey (sumber : RingkasanEksekutif Data danInformasiKesehatanProvinsi Sumatera Barat)

 

  1. D.    Perbandingan tingkat kematian di Indonesia dengan Negara-negara Tetangga

Berdasarkan Profil Data Kesehatan Indonesia yang dipublikasi oleh Kemenkes, penulis berpendapat nilai AKI di Indonesia sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Pada tahun 2008 AKI di Indonesia mencapai 240 (lebih tinggi jika dibandingkan data dari SDKI 2007), sedangkan AKI di Filipina mencapai 94, Vietnam mencapai 56, Thailand 48, dan Malaysia mencapai 31. Pencapaian Indonesia hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Laos (580), Kamboja (290), dan Timor Leste (370). Besarnya AKI di Indonesia menunjukkan masih rendahnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap hak-hak perempuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

 

Gambar 3. Perbandingan AKB dan AKA5 2001 ( Sumber : peningkatankeadaankesehatan Indonesia dari Bank Dunia)

 

Di samping itu, ada pula angka kematian ibu. Data United Nations Development Programme (UNDP) menyebutkan bahwa dari 5.000.000 kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Rasio kematian ibu melahirkan di Indonesia merupakan yang tertinggi di ASEAN, yaitu 1 dari 65. Rasio ini sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga, Thailand, yang hanya memiliki rasio ibu meninggal 1 dari 1.100. Itu berarti setiap tahunnya di Indonesia ada 20.000 anak piatu yang terlahir tanpa pernah merasakan air susu ibu serta kasih sayang ibu kandungnya. Melihat lebih jauh perbandingan AKI (Angka Kematian Bayi) di beberapa negara ASEAN. BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2005 secara nasional angka kematian ibu adalah 262 per 100.000 kelahiran hidup. Diperkirakan jumlah kelahiran hidup sebanyak 5 juta, ini berarti bahwa setiap jam ada 1 ibu yang meninggal karena proses kelahiran dan persalinan. Angka ini tentunya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga lainnya seperti Thailand (129/100.000), Malaysia (30/100.000) dan Singapura (6/100.000). Angka kematian bayi (AKB) menurut SDKI tahun 2002/2003 sebanyak 35 per 1.000 kelahiran hidup yang berarti bahwa setiap jam ada 18 bayi yang meninggal.

   

Gambar 4. Perbandinganrasiokematianibu (sumber : peningkatankeadaankesehatan Indonesia dari Bank Dunia)

Gambar 5. Perkembangankematianibu di beberapa Negara ASEAN

 

Apakah yang menjadi penyebab tingginya AKI di Indonesia?

  1. 1.    Pendidikan Ibu Sangat Vital Bagi Kesehatan Anak

Penyerapan informasi yang beragam dan berbeda sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seorang ibu. Latar pendendidikan formal serta informal akan sangat berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan para ibu mulai dari segi pikiran, perasaan maupun tindakannya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu, maka akan semakin tinggi pula kemampuan dasar yang dimiliki ibu dalam merawat anaknya mulai dari proses kehamilan hingga pemberian Air Susu Ibu (ASI). Tingkat pendidikan dapat mendasari sikap seorang ibu dalam menyerap dan mengubah sistem informasi tentang ASI. Dimana ASI merupakan makanan utama dan terbaik untuk bayi usia 0-2 tahun.

 

  1. 2.      Lebih dari 33% Ibu di Indonesia Tidak Tamat SD

Angka Kematian Ibu yang begitu tinggi salah satunya karena tingkat pendidikan para ibu di Indonesia yang masih sangat rendah. Jika kita melihat dari jenjang pendidikan, data Badan Pusat Statistik tahun 2010 menyatakan bahwa mayoritas ibu di Indonesia tidak memiliki ijazah SD, yakni sebesar 33,34 persen. Selanjutnya sebanyak 30,16% ibu hanya memiliki ijazah SD atau sederajat. Dan hanya terdapat 16,78% ibu yang berpendidikan setara SMA. Hanya 7,07% ibu yang berpendidikan perguruan tinggi. Pantas saja tingkat kematian ibu serta gizi bayi di Indonesia begitu buruk. Mau tidak mau cara paling struktural untuk membenahi kesehatan para ibu dan anaknya adalah dengan memberi mereka pendidikan yang layak terlebih dahulu. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa mengetahui nutrisi yang mereka butuhkan selama masa kehamilan jika sama sekali tak pernah mendengar nama asam folat dan kolin? Padahal keduanya sangat vital pada masa kehamilan sang ibu. Tentunya pelajaran Biologi dan Kimia di sekolah perlu lebih mengedepankan nilai-nilai yang mempersiapkan calon-calon ibu di masa depan dengan mantap.

 

  1. 3.    TV Memiliki Peran Kunci Mencerdaskan Para Ibu

Televisi merupakan tontonan favorit para ibu mulai dari kota besar hingga desa terpencil. Program TV belakangan ini banyak dicerca masyrakat karena hanya memberikan program hiburan hura-hura serta sinetron tak bermutu. Padahal jika para pemiliki stasiun TV mau lebih arif dan memiliki rasa tanggung jawab sosial yang tinggi, TV bisa memilki peran kunci dalam mencerdaskan para ibu. Ada baiknya Kementrian Kesehatan bersama sektor swasta memberikan program-program TV yang edukatif untuk para ibu mengenai nutrisi, pentingnya ASI eksklusif, serta kesehatan ibu dan anak. Pendidikan yang edukatif ini tentu bisa pula dikemas dalam bentuk sinetron berkualitas sehingga akan ditonton terus oleh para ibu setiap hari.

 

  1. 4.    Minimnya Tenaga Bidan & Dokter di Daerah

Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia, Harni Koesno, mengakui bahwa bidan tidak bisa menjangkau seluruh ibu di daerah, utamanya di daerah terpencil. Karenanya, tidak heran jika ada persalinan yang hanya ditangani oleh dukun bayi. Saat ini jumlah bidan baru sekitar 200 ribu. Itupun sebagian besar ada di Jawa dan Sumatra. Sedangkan total dukun bayi di Indonesia saat ini mencapai 114.290. Tentunya akan sangat masif jika Sekolah Kebidanan mau memberikan pelatihan serta kemitraan dengan para dukun bayi agar bisa menggantikan sementara peran para bidan. Kabar baiknya, saat ini sudah ada 70.783 dukun bayi yang mau bermitra dengan bidan. Ke depannya diharapkan banyak pihak swasta yang mau terlibat membangun sekolah-sekolah kebidanan di daerah-daerah terpencil. Selain membuka lapangan kerja yang lebih luas, tentunya hal ini akan secara masif meningkatkan kesehatan ibu hamil dan menyusui. Siapa yang tertarik? Mari kita bangun sekolah kebidanan dengan biaya terjangkau di seluruh pelosok Indonesia.

 

  1. 5.    Jampersal Bisa Menjadi Bagian dari Solusi

Jaminan Persalinan (Jampersal) bisa menyelamatkan nyawa banyak ibu di Indonesia. Tahun 2012 ini pemerintah menganggarkan Rp 922,7 miliar untuk 2,8 juta ibu. Dengan Jampersal, maka proses persalinan dan setelah melahirkan menjadi lebih terpantau sehingga mengurangi resiko ibu meninggal. Jampersal bisa memberikan pelayanan cuma-cuma bagi ibu melahirkan lengkap dengan pelayanan pemeriksaan kehamilan (ANC) dan pelayanan kesehatan pasca melahirkan. Ini merupakan solusi yang cukup efektif untuk masa mendatang bagi para ibu. Jampersal diharapkab bisa menjadi bagian dari solusi kesehatan ibu dan anak.

 

  1. 6.    Kota Solo Mencatat Prestasi Mengagumkan Kesehatan Ibu dan Anak

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Indonesia, ratusan ibu lulus sekolah kehamilan.Selama sekolah khusus ibu hamil, para bunda tidak hanya diajarkan secara teori menjaga kehamilan saja, namun juga pasca kelahiran. Para bunda diberitahu juga secara praktek cara bagaimana menjaga kondisi tubuh menjelang atau sesudah kelahiran, senam hamil, proses persalinan, cara memberikan ASI ekslusif bagi bayi, menjaga asupan gizi ibu menyusui maupun bayi, serta cara menyusui bayi yang benar. Tentu semua ini merupakan ilmu yang sangat penting dan berharga yang wajib diketahui oleh para ibu hamil. Pelatihan ibu hamil ini sangat perlu untuk diadakan di kota-kota lain. Tentunya jika ada donatur yang bersedia membantu, pelatihan seperti ini bisa dibuatkan juga dalam bentuk multimedia, aplikasi handphone, online learning serta video pembelajarannya. Dengan bekal yang memadai nantinya para ibu hamil akan jauh lebih siap menghadapi kelahiran anaknya.

 

  1. 7.    Satu dari Sepuluh Kehamilan Ternyata Tidak Diinginkan

Survei membuktikan bahwa 1 dari 10 kehamilan yang terjadi sebenarnya tidak diinginkan oleh sang ibu. Oleh karena itu, BKKBN dan TNI telah menjalin kerjasama untuk mensosialisasikan pentingnya alat kontrasepsi. Saat ini secara nasional rasio ketersediaam alat kontrasepsi hanya 61,7%. Sulit sekali mendapatkan alat kontrasepsi di daerah terpencil. Bahkan banyak masyarakat daerah yang belum pernah mendengar sama sekali apa itu alat kontrasepsi. Banyak pula terjadi di daerah bahwa gadis muda yang baru berusia 17-18 tahun sudah harus menanggung beban tanggung jawab yang sangat serius sebagai seorang ibu. Menjadi seorang ibu perlu persiapan, pengetahuan serta kesiapan mental yang matang oleh karena itu sangat penting para wanita tidak menikah di usia yang terlalu muda.

 

  1. 8.    Target MDG 2015 Mustahil Tercapai Jika Kita Tak Berperan Serta

Pada survei tahun 2007, angka kematian ibu mencapai 228 per 100 ribu. Artinya, dalam 100 ribu ibu terdapat 228 ibu yang meninggal dunia karena melahirkan. Padahal target Millenium Development Goals (MDG) tahun 2015 adalah 102 per 100 ribu. Salah satu target MDG untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan 1990-2015. Target MDG untuk menurunkan rasio AKI menjadi 102 setiap 100.000 kelahiran adalah hal yang mustahil! Sungguh menyedihkan jika kita melihat data 5 tahun terakhir yang menyatakan bahwa AKI 5 tahun terakhir tidak mengalami peningkatan sama sekali. Kementrian Kesehatan melansir data survei bahwa pada tahun 2007 lalu AKI berada di angka 228, di tahun 2008 AKI sempat turun tipis menjadi 226 namun ternyata pada tahun 2010 kemarin angka kematian ibu justru merosot jauh ke angka 390.

Oleh karena lambannya pemerintah menangani kesehatan ibu maka perlu peran aktif dari masyarakat serta pihak swasta dalam menangani permasalahan ini. Program Sekolah Bunda adalah program pelatihan komprehensif kesehatan ibu dan anak di desa-desa terpencil.

 

FAKTA TENTANG KESEHATAN ANAK DI INDONESIA

  • Menurut data tahun 2008 di Indonesia, angka kematian balita adalah sebesar 44 per 1000 kelahiran hidup, atau ada lebih dari 200.000 balita Indonesia yang meninggal setiap tahunnya. Sedangkan di Malaysia, dengan angka kematian balita sebesar 6.1 kematian per 1000 kelahiran hidup, ada 3.694 kematian balita, jauh lebih sedikit daripada Indonesia. Sementara di Filipina, yang juga merupakan negara kepulauan dengan penduduk yang besar, ada sekitar 85.400 kematian balita, tidak sampai setengah dari angka kematian di Indonesia.
  • Angka kematian bayi di bawah usia 1 tahun (Angka Kematian Bayi) di Indonesia adalah sebesar 34 kematian per 1000 kelahiran hidup. Dengan kata lain, ada sekitar 157.000 kematian anak setiap tahunnya. Dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, angka ini jauh lebih dari Malaysia (3.633 kematian anak per tahun) dan dari Filipina (67.092 kematian anak per tahun).
  • Lebih dari dua per tiga kematian balita disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan intervensi yang mudah dan relatif murah.
  • Penyebab kematian utama anak balita adalah:
  • Penyebab kematian utama anak berusia kurang dari 1 tahun adalah:
  • Kesenjangan dalam kesehatan anak di Indonesia :
    • Diare
    • Pneumonia
    • Malaria (di daerah Endemis Malaria)
    • Campak
    • Infeksi saluran napas
    • Diare
    • Komplikasi Prenatal
    • Kematian bayi di daerah Indonesia bagian timur (Nusa Tenggara, Maluku, Papua) serta Kalimantan justru meningkat. Sementara daerah Indonesia lainnya menunjukkan perbaikan. Kesenjangan fasilitas dan layanan kesehatan antar wilayah di Indonesia memiliki peran besar dalam kesenjangan ini.

 

 

 

Mengapa kematian anak masih sangat tinggi di Indonesia?

  • Masyarakat kurang mampu tidak dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar. Keterlambatan mendapat penanganan medis menyebabkan hampir 70% kematian anak balita.
  • Kurangnya cakupan imunisasi, yang dapat mencegah sebagian besar penyakit menular pada anak.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka kematian anak dan balita?

Meningkatkan cakupan intervensi yang telah terbukti dapat menurunkan angka kematian anak dan balita. Intervensi-intervensi ini termasuk di dalam konsep Continuum of Care.

Apa itu Continuum of Care ?

The ” Continuum Care ” untuk reproduksi , ibu, bayi dan kesehatan anak termasuk pengiriman layanan terpadu bagi ibu dan anak-anak dari pra – kehamilan hingga persalinan , periode postnatal dan masa kanak-kanak . Perawatan tersebut disediakan oleh keluarga dan masyarakat , melalui layanan rawat jalan , klinik dan fasilitas kesehatan lainnya .

The Continuum Care mengakui bahwa persalinan yang aman sangat penting untuk kesehatan baik perempuan dan bayi yang baru lahir anak – dan bahwa awal yang sehat dalam hidup adalah suatu langkah penting menuju masa kecil yang sehat dan kehidupan yang produktif .

Dimensi dan pentingnya Continuum Care?

Dimensi pertama dari Continuum Care adalah waktu – dari pra – kehamilan , selama kehamilan , persalinan , dan hari-hari awal dan lanjut usia ( Gambar 1 Menghubungkan perawatan memberi seluruh Continuum untuk kesehatan ibu, bayi dan anak. ) .

 

 

Dimensi kedua dari Continuum Care adalah tempat – menghubungkan berbagai tingkat rumah, masyarakat , dan fasilitas kesehatan ( Gambar 2 Menghubungkan perawatan memberi antara rumah tangga dan fasilitas kesehatan untuk mengurangi kematian ibu, bayi , dan anak. ) .

 

Menghubungkan intervensi dengan cara ini penting karena dapat mengurangi biaya dengan memungkinkan efisiensi yang lebih besar , meningkatkan penyerapan dan memberikan kesempatan untuk mempromosikan elemen kesehatan terkait ( misalnya perawatan postpartum / nifas dan bayi baru lahir ) .

 

  1. E.       Dampak Mortalitas Terhadap Pembangunan di Indonesia

Data kematian sangat diperlukan antara lain untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam hal meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan  derajat kesehatan pada khususnya. Angka harapan hidup yang rendah di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan, dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori termasuk pemberantasan kemiskinan. Selain itu data kesehatan juga berfungsi untuk  proyeksi penduduk guna perencanaan pembangunan. Misalnya perencanaan fasilitas perumahan, fasilitas pendidikan  , jasa  –  jasa dan lainnya untuk kepentingan masyarakat . Data kematian juga sangat penting untuk kepentingan evaluasi terhadap program – program kebijaksanaan penduduk.

Selain itu, tujuan pembangunan hakikatnya adalah demi kesejahteraan masyarakatnya. Di sini kematian sangat erat relasinya dengan kesehatan masyarakat itu sendiri. Hal ini jelas angka kematian memberi pengaruh yang besar dalam pembangunan di Indonesia terutama pembangunan dalam bidang kesehatan. Dan juga salah satu indikator yang sangat penting untuk menilai seberapa jauh keberhasilan pembangunan kesehatan di suatu daerah yaitu dengan melihat indikator angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), disamping indikator kejadian penyakit maupun umur harapan hidup.

Dalam hal kematian, Indonesia mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDG’s) untuk  mengurangi  jumlah penduduk yang miskin dan kelaparan serta menurunkan angka kematian balita menjadi tinggal setengah dari keadaan pada tahun 2000 (Syarief,Hidayat.2004). Peningkatan kesehatan ibu di Indonesia, merupakan Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) kelima.

 

  1. F.       Daerah Sumatera Barat yang Memiliki Tingkat Kematian Tinggi

Berdasarkan gambar 1 dan gambar 2, di sana terlihat bahwasannya untuk provinsi Sumatera Barat jumlah angka kematian bayi dan balita sedikit melebihi target MDG dimana target MDG kurang sama dari 32 sedangkan Sumatera Barat mencapai 34. Untuk daerah di provinsi Sumatera Barat sendiri yang memiliki angka kematian tinggi dapat kita lihat pada table berikut.

Tabel 1. Angka Kematian Bayi (AKB) menurut Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten/Kota, dan Jenis Kelamin

 

Infant Mortality Rates by Province, District and Sex

Provinsi /Province atauKabupaten / District

JenisKelamin / Sex

Laki-laki / Male

Perempuan / Female

Total

Provinsi Sumatera Barat

59.07

46.61

52.66

  1. Kep. Mentawai

49.47

38.24

43.69

  1. Kab. Pesisir Selatan

62.26

49.41

55.65

  1. Solok

79.21

64.42

71.60

  1. Sawahlunto/Sijunjung

79.21

64.42

71.60

  1. Tanah Datar

51.63

40.08

45.69

  1. Padang Pariaman

60.14

47.54

53.66

  1. Agam

53.76

41.94

47.68

  1. Limapuluh Kota

62.26

49.41

55.65

  1. Pasaman

74.99

60.65

67.61

  1. Kota Padang

43.01

32.72

37.72

  1. Kota Solok

53.76

41.94

47.68

  1. Kota Sawahlunto

35.37

26.40

30.75

  1. Kota Padang Panjang

39.76

29.99

34.73

  1. Kota Bukittinggi

35.37

26.40

30.75

  1. Kota Payakumbuh

49.47

38.24

43.69

Sumber/Source :SP 2000 dari(C) 2013 Data Statistik Indonesia

Berdasarkan tabel diatas, jumlah angka kematian bayi yang cukup tinggi berada di kabupaten solok dan kabupaten sawahlunto sijunjung. Keduanya sama-sama meraih jumlah angka kematian bayi sebanyak 71.60.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Kematian (mortalitas) merupakan kondisi dimana hilangnya tanda-tanda kehidupan secara tetap atau permanen setelah kematian yang kemudian menjadi komponen dalam demografi.

Sumber data mortalitas penduduk Indonesia ialah registrasi penduduk. Cara pengumpulan data ini prospektif yaitu pencatatan yang kontiniu terhadap tiap – tiap peristiwa kematian. Selain itu sumber data juga bisa di ambil dari penelitian (survey).

Berdasarkan Profil Data Kesehatan Indonesia yang dipublikasi oleh Kemenkes, penulis berpendapat nilai AKI di Indonesia sangat tinggi jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya.

Besarnya AKI di Indonesia menunjukkan masih rendahnya perhatian pemerintah dan masyarakat terhadap hak-hak perempuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

Salah satu indikator yang sangat penting untuk menilai seberapa jauh keberhasilan pembangunan kesehatan di suatu daerah yaitu dengan melihat indikator angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), disamping indikator kejadian penyakit maupun umur harapan hidup.

Berdasarkan data yang diperoleh, jumlah angka kematian bayi yang cukup tinggi berada di kabupaten solok dan kabupaten sawahlunto sijunjung. Keduanya sama-sama meraih jumlah angka kematian bayi sebanyak 71.60.

 

  1. B.       Saran

Berdasarkan uraian yang telah dibaca, perlu rasanya ada peningkatan kinerja dari pemerintah untuk melakukan perbaikan di bidang kesehatan. Karena hal ini sangat berpengaruh dalam penentuan angka kematian, baik itu bayi, balita maupun kematian ibu.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bagoes Mantra, Ida. 2009. Demografi Umum. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

D.Prayoga, Ayuda. 2007. Dasar-dasar Demografi: Jakarta : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

 

Sumber lain :

http://adepedia-myownworld.blogspot.com/2013/03/analisis-mortalitas-di-indonesia.html, diakses tanggal 29 September 2013

http://andykudoes.blogspot.com/2009/05/akb-angka-kematian-bayi-indonesia.html, diakses tanggal 29 September 2013

http://akubukanmanusiapurba.blogspot.com/2011/06/kebijakan-mortalitas-dalam-kependudukan.html, diakses tanggal 30 September 2013

http://gresikkab.go.id/berita/26112012/tahun-2010-angka-kematian-di-indonesia-59-akibat-penyakit-tak-menular-dan-life-style.html, diakses tanggal 29 September 2013

www.bps.go.id, diakses tanggal 30 September 2013

http://www.datastatistik-indonesia.com/portal/index.php?option=com_tabel&task=show&Itemid=167, diakses tanggal 30 September 2013

 

 

 

By geographunp